Letusan Gunung Sinabung
Gunung Sinabung (bahasa Karo: Deleng Sinabung) adalah gunung api di Dataran Tinggi Karo, Kabupaten Karo, Sumatera Utara,Indonesia. Sinabung bersama Gunung Sibayak di dekatnya adalah dua gunung berapi aktif di Sumatera Utara dan menjadi puncak tertinggi di provinsi itu. Ketinggian gunung ini adalah 2.460 meter.
Gunung ini tidak pernah tercatat meletus sejak tahun 1600,[2] tetapi mendadak aktif kembali dengan meletus pada tahun 2010. Letusan terakhir gunung ini terjadi sejak September 2013 dan berlangsung hingga kini.
Gunung Sinabung kembali meletus sebanyak lima kali sejak Minggu (05/10) pagi hingga siang serta mengeluarkan guguran awan panas yang jangkauannya mencapai sekitar 5km.
Diperkirakan letusan dengan awan panas guguran masih berpotensi terjadi dalam hari-hari ke depan, demikian keterangan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, PVMBG.
"Masih sangat berpotensi akan terjadi lagi awan panas guguran, maka kami masih mengimbau masyarakat tidak memasuki (kawasan jangkauan) awan panasnya," kata Kepala Pos Pengamatan Gunung Api Sinabung dari PVMBG, Armen Putra kepada wartawan BBC Indonesia, Heyder Affan, Minggu (05/10) siang.
Menurutnya, sampai pukul 12.00 WIB sudah terjadi sebanyak lima kali letusan ditambah abu vulkanik setinggi 3.000 meter yang terlihat dengan jelas.
"Tapi, status gunung tidak ada peningkatan yaitu tetap level tiga atau siaga," kata Armen.
Keterangan resmi Badan Nasional Penanggulangan Bencana atau BNPB, menyebutkan, letusan pertama terjadi pukul 01.46 WIB, Minggu (05/10) dini hari.
Letusan pertama ini disusul adanya awan panas guguran dengan jarak luncur sejauh 4.500 meter ke arah selatan, demikian keterangan tertulis BNPB.
"Adapun abu vulkanisnya setinggi 2.000 meter dan lama erupsi 263 detik," kata juru bicara BNPB, Sutopo Purwo Nugroho.
Meletus beberapa kali
Sekitar lima jam kemudian, Gunung Sinabung meletus kembali untuk kedua kalinya disertai awan panas guguran. Hal seperti ini terulang kembali pukul 07.36 WIB, 07.53 WIB serta sekali lagi beberapa jam kemudian.

Sebelum meletus pada 29 Agustus 2010 lalu, gunung Sinabung dikenal tidak aktif selama 400 tahun.
Semenjak letusan akhir Agustus 2010 itu, gunung ini meletus beberapa kali, termasuk salah-satu letusan terbesar pada awal September 2010. Sejauh ini tercatat 17 orang tewas akibat dampak letusannya.
Data BNPB menyebutkan, di awal letusan Gunung Sibanung, pemerintah harus mengungsikan sekitar 20.000 penduduk yang tinggal di sekitar Gunung Sinabung di Kabupaten Karo dan Langkat Sumatera Utara.
Sejumlah laporan menyebutkan, saat ini pengungsi yang bertahan di lokasi pengungsian tersisa sekitar 1.500 orang, sementara lainnya memilih mengungsi ke tempat lainnnya yang dianggap aman.

http://www.bbc.co.uk/indonesia/berita_indonesia/2014/10/141005_gunung_sinabung_meletus_lagi
Cara menyikapi bencana dan penderitaan :
Oleh : KH. M. Shiddiq Al-Jawi
Para ulama mendefinisikan musibah sebagai “segala sesuatu yang dibenci yang terjadi pada manusia” (kullu makruuhin yahullu bi al-insan) (Ibrahim Anis, al-Mu’jam al-Wasith, h. 527). Musibah gempa yang sering terjadi di Indonesia akhir-akhr ini misalnya, benar-benar telah melahirkan berbagai hal yang dibenci, seperti robohnya rumah, kematian anggota keluarga, rusaknya perabotan, dan sebagainya. Bagaimana tuntunan Islam dalam menyikapi musibah seperti ini? Bagi shahibul musibah (yang terkena musibah) Islam memberikan pedoman sikap antara lain :
1. IMAN DAN RIDHO TERHADAP KETENTUAN (QADAR) ALLAH
Kita wajib beriman bahwa musibah apa pun seperti gempa bumi, banjir, wabah penyakit, sudah ditetapkan Allah SWT dalam Lauhul Mahfuzh. Kita pun wajib menerima ketentuan Allah ini dengan lapang dada (ridho). Allah SWT berfirman :
“Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.” (QS al-Hadid [57] : 22)
Kita pun wajib menerima taqdir Allah ini dengan rela, bukan dengan menggerutu atau malah menghujat Allah SWT. Misalnya dengan berkata,”Ya Allah, mengapa harus aku? Apa dosaku ya Allah?” Hujatan terhadap Allah Azza wa Jalla ini sungguh kurang ajar dan tidak sepantasnya, sebab Allah SWT berfirman :
“Dia [Allah] tidak ditanya tentang apa yang diperbuat-Nya dan merekalah yang akan ditanyai.” (QS al-Anbiyaa` [21] : 23)
2. SABAR MENGHADAPI MUSIBAH
Sabar, menurut Imam Suyuthi dalam Tafsir al-Jalalain, adalah menahan diri terhadap apa-apa yang Anda benci (al-habsu li an-nafsi ‘alaa maa takrahu). Sikap inilah yang wajib kita miliki saat kita menghadapi musibah. Selain itu, disunnahkan ketika terjadi musibah, kita mengucapkan kalimat istirja’ (Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun ). Allah SWT berfirman :
“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun” . (QS al-Baqarah [2] : 155-156)
Dengan demikian, sabarlah ! Jangan sampai kita meninggalkan sikap sabar dengan berputus asa atau berprasangka buruk seakan Allah tidak akan memberikan kita kebaikan di masa depan. Ingat, putus asa adalah su`uzh-zhann billah (berburuk sangka kepada Allah) ! Su`uzh-zhann kepada manusia saja tidak boleh, apalagi kepada Allah.
Memang, orang yang tertimpa musibah mudah sekali terjerumus ke dalam sikap putus asa (QS 30 : 36). Namun Allah SWT menegaskan, sikap itu adalah sikap kufur (nauzhu billah mindzalik), sebagaimana firman-Nya :
“Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir.” (QS Yusuf [12] : 87).
3. MENGETAHUI HIKMAH DI BALIK MUSIBAH
Seorang muslim yang mengetahui hikmah (rahasia) di balik musibah, akan memiliki ketangguhan mental yang sempurna. Berbeda dengan orang yang hanya memahami musibah secara dangkal hanya melihat lahiriahnya saja. Mentalnya akan sangat lemah dan ringkih, mudah tergoncang oleh sedikit saja cobaan duniawi. Apalagi kalau musibahnya besar, mungkin dia bisa gila.
Hikmah musibah antara lain diampuninya dosa-dosa. Sabda Rasulullah SAW :
“Tidaklah seorang mukmin tertimpa musibah tertusuk duri atau lebih dari itu, kecuali dengannya Allah akan menghapus sebagian dosanya.” (HR Bukhari dan Muslim)
Muslim yang mati tertimpa bangunan atau tembok akibat gempa, tergolong orang yang mati syahid. Sabda Nabi SAW :
“Orang-orang yang mati syahid itu ada lima golongan; (1) orang yang terkena wabah penyakit tha’un, (2) orang yang terkena penyakit perut (disentri, kolera, dsb), (3) orang yang tenggelam, (4) orang yang tertimpa tembok/bangunan, dan (5) orang yang mati syahid dalam perang di jalan Allah.” (HR Bukhari dan Muslim)
“Akan diampuni bagi orang yang mati syahid setiap-tiap dosanya, kecuali utang.” (HR Muslim).
Hikmah lainnya ialah, jika anak-anak muslim meninggal, kelak mereka akan masuk surga. Sabda Nabi SAW :
“Anak-anak kaum muslimin [yang meninggal] akan masuk ke dalam surga.” (HR Ahmad)
4. TETAP BERIKHTIAR
Maksud ikhtiar, ialah tetap melakukan berbagai usaha untuk memperbaiki keadaan dan menghindarkan diri dari bahaya-bahaya yang muncul akibat musibah. Jadi kita tidak diam saja, atau pasrah berpangku tangan menunggu bantuan datang.
Beriman kepada ketentuan Allah tidaklah berarti kita hanya diam termenung meratapi nasib, tanpa berupaya mengubah apa yang ada pada diri kita. Allah SWT berfirman :
“Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS ar-Ra’du [13] : 11)
Ketika terjadi wabah penyakit di Syam, Umar bin Khattab segera berupaya keluar dari negeri tersebut. Ketika ditanya,”Apakah kamu hendak lari dari taqdir Allah?” maka Umar menjawab,”Ya, aku lari dari taqdir Allah untuk menuju taqdir Allah yang lain.”
Rasulullah SAW pun memberi petunjuk bahwa segala bahaya (madharat) wajib untuk dihilangkan. Misalnya ketiadaan logistik, tempat tinggal, masjid, sekolah, dan sebagainya. Nabi SAW bersabda,”Tidak boleh menimbulkan bahaya bagi diri sendiri dan bahaya bagi orang lain.” (HR Ibnu Majah)
5. MEMPERBANYAK BERDOA DAN BERDZIKIR
Dianjurkan memperbanyak doa dan dzikir bagi orang yang tertimpa musibah. Orang yang mau berdoa dan berdzikir lebih mulia di sisi Allah daripada orang yang tidak mau atau malas berdoa dan berdizikir. Rasululah SAW mengajarkan doa bagi orang yang tertimpa musibah : “Allahumma jurnii fii mushiibatii wakhluf lii khairan minhaa (Ya Allah, berilah pahala dalam musibahku ini, dan berilah ganti bagiku yang lebih baik daripadanya.) (HR Muslim)
Dzikir akan dapat menenteramkan hati orang yang sedang gelisah atau stress. Dzikir ibarat air es yang dapat mendinginkan tenggorokan pada saat cuaca panas terik. Allah SWT berfirman :
“Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.” (QS ar-Ra’du [13] : 28)
Dzikir yang dianjurkan misalnya bacaan istighfar,”Astaghfirullahal ‘azhiem”. Sabda Nabi SAW :
“Barangsiapa memperbanyak istighfar, maka Allah akan membebaskannya dari kesedihan, akan memberinya jalan keluar bagi kesempitannya, dan akan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya.” (HR. Abu Dawud).
6. BERTAUBAT
Tiada seorang hamba pun yang ditimpa musibah, melainkan itu akibat dari dosa yang diperbuatnya. Maka sudah seharusnya, dia bertaubat nasuha kepada Allah SWT. Orang yang tak mau bertaubat setelah tertimpa musibah, adalah orang sombong dan sesat. Allah SWT berfirman :
“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar.” (QS asy-Syuura [42] : 30)
Sabda Nabi SAW “Setiap anak Adam memiliki kesalahan (dosa). Dan sebaik-baik orang yang bersalah, adalah orang yang bertaubat.” (HR at-Tirmidzi).
Bertaubat nasuha rukunnya ada 3 (tiga). Pertama, menyesali dosa yang telah dikerjakan. Kedua, berhenti dari perbuatan dosanya itu. Ketiga, ber-azam (bertekad kuat) tidak akan mengulangi dosanya lagi di masa datang. Jika dosanya menyangkut hubungan antar manusia, misalnya belum membayar utang, pernah menggunjing seseorang, pernah menyakiti perasaan orang, dan sebagainya, maka rukun taubat ditambah satu lagi, yaitu menyelesaikan urusan sesama manusia dan meminta maaf.
7. TETAP ISTIQOMAH PADA ISLAM
Dalam setiap musibah, selalu ada pihak-pihak tertentu yang memanfaatkannya untuk tujuan jahat. Misalkan saja upaya kotor berupa Kristenisasi. Caranya adalah dengan memberikan bantuan logistik, medis, uang, rumah, dan sebagainya. Tapi semuanya itu tidaklah diberikan dengan tulus, melainkan ada maksud keji di baliknya. Ujung-ujungnya, orang-orang kafir itu ingin sekali memurtadkan orang Islam menjadi orang Kristen. Na`uzhu billah min dzalik.
Di sinilah seorang muslim dituntut untuk bersikap istiqamah, yaitu konsisten di atas satu jalan dengan mengamalkan kewajiban-kewajiban dan meninggalkan larangan-larangan (mulazamah al-thariq bi fi’li al-wajibat wa tarki al-manhiyyat). Allah SWT mewajibkan kita istiqamah :
“Maka tetaplah kamu pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu dan orang yang telah taubat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan” (QS Huud [11] : 112)
Muslim yang murtad (keluar dari agama Islam) dan menjadi pemeluk Kristen, sungguh telah tertipu mentah-mentah dunia akhirat. Allah SWT berfirman :
“Barangsiapa yang murtad di antara kamu dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, maka mereka itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan di akhirat, dan mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.” (QS al-Baqarah [2] : 217)
Karena itu wajiblah bagi kita untuk terus istiqamah mempertahankan keislaman kita. Jangan mudah tergiur oleh bujuk rayu setan berbentuk manusia itu. Jangan mati kecuali tetap memegang teguh agama Islam. Allah SWT berfirman :
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” (QS Ali ‘Imraan [3] : 102)
Solusi menghindari bencana dan penderitaan :
Bencana alam dapat terjadi secara perlahan-lahan atau tiba-tiba. Bencana alam yang umumnya terjadi secara tiba-tiba antara lain gempa, termasuk gempa tektonik, vulkanis dan robohan, tsunami, banjir bandang, badai tropis dan letusan gunung berapi serta tanah longsor. Bencana-bencana tersebut sulit diantisipasi terjadinya, karena sulit sekali diramalkan sebelumnya.
Berikut adalah cara atau tips untuk menghindari bencana alam:
1. Tsunami
Berikut adalah cara atau tips untuk menghindari bencana alam:
1. Tsunami
Penyebab: Pasang laut akibat gempa tektonik yang sumber gempa ada di tengah lautan.
Tips menghindari: Mencari lokasi yang tinggi di tanah yang terbuka. Bila terjebak di dalam bangunan berupaya keluar dan mencari tempat yang tinggi dan aman.
2. Gempa bumi
Tips menghindari: Mencari lokasi yang tinggi di tanah yang terbuka. Bila terjebak di dalam bangunan berupaya keluar dan mencari tempat yang tinggi dan aman.
2. Gempa bumi
Penyebab: Pergerakan kerak bumi, menghasilkan patahan.
Tips menghindari: Mencari tempat yang aman di tempat terbuka, bila terjebak dalam rumah berupaya berlindung di bawah meja atau tempat tidur yang kuat, atau berada di bawah pintu kayu.
3. Letusan gunung berapi
Tips menghindari: Mencari tempat yang aman di tempat terbuka, bila terjebak dalam rumah berupaya berlindung di bawah meja atau tempat tidur yang kuat, atau berada di bawah pintu kayu.
3. Letusan gunung berapi
Penyebab: Aliran magma yang keluar dari gunung berapi.
Tips menghindari: Menjauh dari sumber magma, berlindung di tempat yang terlindung.
4. Badai dan angin topan
Tips menghindari: Menjauh dari sumber magma, berlindung di tempat yang terlindung.
4. Badai dan angin topan
Penyebab: Angin dengan kecepatan tinggi saat pergantian musim atau perubahan cuaca mendadak.
Tips menghindari: Keluar dari rumah mencari tempat yang aman.
5. Gejala erosi
Tips menghindari: Keluar dari rumah mencari tempat yang aman.
5. Gejala erosi
Penyebab: Gaya endogen dan eksogen.
Tips menghindari: Mengurangi daerah yang miring, menutup tanah terbuka dengan tanaman pelindung, pengaturan aliran air lewat saluran tersier, dan sebagainya.
6. Tanah longsor
Tips menghindari: Mengurangi daerah yang miring, menutup tanah terbuka dengan tanaman pelindung, pengaturan aliran air lewat saluran tersier, dan sebagainya.
6. Tanah longsor
Penyebab: Tanah miring di lereng pegunungan.
Tips menghindari: Menghindari untuk tidak membuat bangunan di lereng, reboisasi dan menutup permukaan tanah yang kosong dengan tanaman.
7. Kekeringan
Tips menghindari: Menghindari untuk tidak membuat bangunan di lereng, reboisasi dan menutup permukaan tanah yang kosong dengan tanaman.
7. Kekeringan
Penyebab: Perubahan musim dengan musim kemarau lebih panjang daripada musim hujan.
Tips menghindari: Pengaturan pemanfaatan air, pembuatan tandon air, membuat resapan yang dapat menampung air hujan.
8. Banjir
Tips menghindari: Pengaturan pemanfaatan air, pembuatan tandon air, membuat resapan yang dapat menampung air hujan.
8. Banjir
Penyebab: Perubahan cuaca di musim hujan, intensitas hujan yang turun sangat besar dan atau waktu yang lama.
Tips menghindari: Pemetaan lingkungan, penghijauan, pengaturan daerah aliran sungai yang terhindari dari erosi dan terhindar dari penyumbatan akibat penumpukan sampah.
Tips menghindari: Pemetaan lingkungan, penghijauan, pengaturan daerah aliran sungai yang terhindari dari erosi dan terhindar dari penyumbatan akibat penumpukan sampah.
http://www.smallcrab.com/others/1016-tips-menghindari-terjadinya-bencana-alam
Sebagai antar sesama manusia dan mahluk ciptaan tuhan, sikap yang dapat saya ambil mengenai bencana alam dan penderitaan ini terhadap para korban adalah dengan memberikan bantuan dapam bentuk apapun, karena bantuan sekecil apapun akan sangat beharga bagi saudara-saudara kita yang tertimpa musibah tersebut. Dan apabila saya yang ada di posisi tersebut, maka sikap yang harus saya lakukan adalah tetap bersabar, banyak berdoa, dan saling membantu dengan para korban lain nya.